Lesti Kejora Laporkan KDRT Sebagai Edukasi Untuk Masyarakat

Lesti Kejora

Pelaporan Lesti Kejora atas kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dialaminya cukup diapresiasi oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dialami seseorang sebetulnya sudah bukan lagi menjadi wilayah privat, karena hal tersebut harus segera ditangani dan dilaporkan kepada pihak yang berwenang.

KDRT bukan lagi menjadi wilayah privat

“Ini merupakan contoh bagi masyarakat bahwa KDRT bukan lagi menjadi wilayah privat yang harus disembunyikan tapi ini harus diungkap ke publik,” ujar Nuning Rodyah selaku Komisaris KPI Pusat saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Sabtu.

dugaan KDRT

Lebih lanjut, Nuning mengatakan keputusan Lesti untuk melaporkan suaminya Rizky Billar atas dugaan KDRT, akan membuka pandangan masyarakat bahwa tindak kejahatan KDRT bukan masalah keluarga yang harus ditutup-tutupi.

“Karena kalau disembunyikan akan berpotensi terjadinya pengulangan kekerasan serupa apalagi korban atau keluarga di sekitar tidak berani melaporkan dan harus ada keberanian melaporkan kejahatan ini agar menimbulkan efek jera bagi pelaku,” katanya.

tidak menampilkan pelaku kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)

KPI sendiri telah memberikan imbauan kepada lembaga seluruh lembaga penyiaran untuk tidak menampilkan pelaku kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sebagai pengisi acara, penampil dan pemeran dalam hal ini adalah Rizky Billar, pada Jumat (30/9).

Langkah tersebut merupakan upaya yang dilakukan oleh KPI untuk menghapus tindakan KDRT dan tidak memberikan ruang bagi pelakunya. Ini merupakan sebuah edukasi kepada masyarakat agar tidak memberikan dukungan kepada publik figur yang melakukan KDRT.

selektif dalam memilih talent

Selain itu, KPI meminta kepada televisi dan radio untuk lebih selektif dalam memilih talent atau narasumber dalam topik yang dipilihnya.

“Karena jika lembaga penyiaran memberi ruang kepada pelaku maka itu akan menstimulasi perspektif dan persepsi publik bahwa KDRT adalah perilaku yang lumrah dan biasa karena yang bersangkutan masih bisa bebas tampil di televisi bahkan berpotensi diglorifikasi secara masif,” katanya.